Live Support

Our Product

Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini1144
mod_vvisit_counterKemarin1637
mod_vvisit_counterMinggu Ini7856
mod_vvisit_counterMinggu Lalu11364
mod_vvisit_counterBulan Ini27770
mod_vvisit_counterBulan Lalu54525
mod_vvisit_counterSemuanya632487

We have: 19 guests online
IP Anda: 38.107.179.207
 , 
Today: Mei 17, 2012
Eto'o Tak Dominan tapi Menentukan

Jakarta - Sejauh ini Samuel Eto'o tidak semenonjol Zlatan Ibrahimovic sewaktu di Inter Milan, atau ketika dirinya dominan di Barcelona. Meski demikian striker Kamerun itu bisa berkontribusi yang menentukan.

Masuk Inter di awal musim, Eto'o baru mencetak delapan gol dari 23 penampilannya di Seri A. Ditambah dengan pertandingan kompetisi lain, ia "cuma" menghasilkan 11 gol dari total 32 laga.

Bandingkan dengan trek rekornya di Barca, misalnya, Eto'o begitu produktif. Dalam lima musim di klub Spanyol itu ia mampu mengemas rata-rata 21 gol di La Liga, atau rata-rata 26 gol per musim di semua kompetisi.


Kalau mau jujur, Eto'o belum memenuhi ekspektasi sebagian Interisti sebagai pengisi tempat yang ditinggalkan Ibrahimovic, yang selama tiga musim membela Nerazzurri mendulang 57 gol dari 88 pertandingan. Rata-rata 19 per musim.

Fakta lain dari sisi internal tim, Eto'o bahkan masih kalah subur dari Diego Milito, yang sudah menciptakan 16 gol di SeriA, serta masih "diintai" dua penyerang 'backup', Mario Balotelli dan Goran Pandev.

Akan tetapi Eto'o tetap layak sebagai sebuah ekspektasi Inter. Biarpun belum dominan, tapi dia baru saja melakukan sesuatu yang sangat menentukan. Pada pertandingan Liga Champions di kandang Chelsea, Rabu (17/3/2010) dinihari WIB, ia mencetak gol semata wayang di 12 menit terakhir. Inter menang 1-0, unggul 3-1 secara agreget dan berhak maju ke babak perempatfinal.

Empat tahun lalu Eto'o pernah memberi kontribusi menentukan buat Barcelona saat tampil di final Liga Champions melawan Arsenal. Ia adalah pemain yang dilanggar Jens Lehmann sehingga kiper asal Jerman itu dikartu merah dan The Gunners berkurang jumlah pemainnya.

Eto'o pula yang mencetak gol pertama Barca untuk menyamakan gol pembuka yang dibuat pemain Arsenal, Sol Campbell. Setelah skor sama di menit 76, Barca menjadi pemenang berkat gol pamungkas Juliano Belletti di menit 81.

Di final Eropa musim lalu Eto'o juga menjadi sosok yang menentukan. Menghadapi Manchester United, pemain 29 tahun itu berhasil menjebol gawang Edwin van der Saar di menit-menit awal, persisnya menit ke-10, dan itu mengubah jalannya pertandingan. Barca menang 2-0 dengan tambahan gol Lionel Messi, dan tampil sebagai juara lagi.